A TEXT POST

Amsterdam, last city of our #BlaastTrip

Amsterdam menjadi kota terakhir dalam official trip Blaast ke Europe. Dan kota ini kami ditemani oleh Daniel, Head of Developer dari Blaast. Flight langsung dari Helsinki ke Amsterdam via Schipol Airport pada siang hari membawa kami sampai ke kota yang bisa dibilang central of Europe. Dijemput oleh Daniel kita langsung naik kereta menuju hotel di Amsterdam Zuid.

Hotel yang kami tinggali adalah CitizenM yang katanya the most cool hotel in the world. Ada penghargaannya loh ternyata. Dan ga heran melihat hotelnya memang gelar itu pantas didapat oleh mereka. Dengan design yang modern dan pelayanan yang yang menggunakan teknologi secara efektif saya rasa gelar itu bukan sekedar title biasa. Kita bisa self checkin dan checkout di mesin yang disediakan dan kita bisa langsung dapat kunci kamar dari mesin tersebut.

Yang mengejutkan buat saya dan Reza pada saat masuk kamar adalah, kamar mandinya transparan. Kita bengong dan berpikir gimana caranya mandi nih, kayaknya salah satunya harus keluar dulu. Kamar yang sangat keren menurut saya tapi sangat sayang harus ditinggali bersama Reza, kenapa bukan pasangan saya yah? Hehehe. Bahkan kamar pun bisa dikontrol sepenuhnya dari remote dan LCD screen. Mulai dari musik, lampu, bahkan tema kamar tersebut bisa diatur dari remote. Temanya pun bahkan ada romantic dimana suasana kamar langsung berubah dengan ambiance lampu berwarna pink dan bikin kita berpikir lagi, kenapa nginapnya bareng cowok lagi.

Selesai checkin dan mandi, kita langsung menuju ke Amsterdam Central untuk makan dan mencari tempat untuk ngehabisin malam sambil ngebeer dan nonton bola bareng. Dan pilihan tempat makan yang kita pilih adalah restaurant Indonesia karena kebosanan kita makan pasta, dan makanan dingin selama 10 hari di Tallin dan Helsinki.

Beres makan kita jalan berkeliling mencari bar untuk nonton bareng bola antara Roma vs Lazio. Dan ga jauh dari tempat kita makan ternyata ada jejeran bar yang memutar pertanding itu. Dan kita memilih bar yang kita lihat masih ada tempat karena hari ini adalah weekend dan bar-bar itu tampak sangat ramai. Kita larut dalam pertandingan hingga tengah malam dan memutuskan untuk pulang ke hotel selesai pertandingan.

Keesokan harinya sekitar jam 9 pagi kita langsung menuju ke kantor Cloud9 salah satu startup yang cukup sukses di Amsterdam. Sampai disana kita disambut dengan baik oleh team Cloud9. Mereka mendemokan produk mereka dan bercerita tentang gimana mereka sempat berkompetisi dengan jQuery tapi akhirnya mereka memutuskan untuk membangun Cloud9 IDE karena tampaknya jQuery terlalu dominan buat mereka.

Selesai berkunjung ke kantor Cloud9 IDE kita berkeliling sambil jalan kaki. Dan seperti turis pria lainnya kita juga melewati Red Ligth District. Salah satu kawasan lokalisasi yang terkenal di Amsterdam karena “pemandangan” tersaji di etalase layaknya barang pajangan.

Capek berkeliling kita terpisah menjadi 2 rombongan dimana beberapa berkeliling Amsterdam dengan menyewa sepeda, dan sisanya termasuk saya memilih kembali ke Hotel untuk beristirahat. Saya lebih memilih untuk menikmati hotel karena minggu depannya saya akan kembali lagi kesini sebelum balik ke Indonesia.

Mungkin itu sedikit cerita di Amsterdam sebagai kota terakhir bersama team Blaast. Malamnya kita hanya menikmati pizza sebagai makan malam dan besoknya berpisah karena saya akan ke Eindhoven untuk mengambil flight ke Milan menggunakan Ryan Air yang tiketnya hanya 34 euro untuk Eindhoven - Milan.

Kota ini menjadi perpisahan buat team Blaast karena Fahry berangkat duluan ke Turin mengunjungi markas team idolanya Juventus dan lanjut ke Paris lewat Eindhoven juga. Reza ke Copenhagen menunaikan naik haji sepeda di kota yang terkenal sebagai kota sepeda. Saya yang akan ke Milan via Eindhoven untuk menonton langsung team favorit saya AC Milan, lanjut ke Roma untuk mengunjungi tempat suci umat Katolik di Vatican, dan lanjut ke Barcelona untuk melihat kota yang katanya must visited city in Europe sebelum kembali ke Amsterdam dimana flight ke Indonesia menunggu saya.

PS: Tulisan ini sudah lama tersimpan di draft akhirnya bisa selesai juga. Mudah-mudahan cerita di kota Eindhoven, Milan, Como, Roma, dan Barcelona bisa menyusul secepatnya.